Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Jujur Ketika Tidak Jujur

Menaklukkan diri sendiri adalah hal tersulit bagi diri ini… entah bagi orang lain.

Sudah sejak lama ada sebuah keinginan yang mendorong kehendak untuk mengungkapkan kejujuran yang benar-benar jujur selalu saja terurungkan sebab masih ada kemelekatan untuk itu.

Mengungkapkan sesuatu tentang kejujuran adalah hal yang baik… sangat baik malahan… di mana akan banyak orang mendapatkan manfaat ataupun termotivasi walaupun pada penyampaiannya masih menyembunyikan sedikit saja tentang asal muasal kejujuran dan bahkan tentang kejujuran yang di sampaikan sendiri… banyak pujian pun akan menghampiri… berharap tak melekat akan hal itu pun pada kenyataannya akan terjebak kembali pada keadaan menyenangkan yang menghanyutkan tanpa tersadari.

Dalam sebuah perjalanan… ketika menyusuri pinggiran sungai yang tak terlalu dalam… mata ini terpikat dengan kilauan sebuah batu yang terkena cahaya matahari… sebuah batu yang indah… berwarna hijau seperti jade dan begitu dingin ketika bersentuhan dengan jemari. Batu yang ketika digosok agar berbentuk mengundang banyak tanya dari banyak orang yang melihat diri ini menggosok sebuah batu. Banyak tanya pun mengalir tentang batu apa dan darimana asalnya… kemudian terjawab bahwa batu itu kutemukan di pinggiran sungai… hingga satu ketika sampai pada sebuah kemelekatan yang mengatakan bahwa batu itu adalah milikku… padahal jika mau jujur… batu itu bukan milikku… jika tak kutemukan pun batu itu akan tetap ada di pinggiran sungai.

Sang Guru pernah berkata-kata… pada saat kau menebarkan kebaikan demi kebaikan… akan tiba sebuah kondisi yang jika tak kau sadari akan membuatmu terjebak dan menjadi melekat… kemudian jikalau batin dapat melampaui keterjebakan dan kemelekatan… akan ada kekuatan-kekuatan yang akan semakin menggoda untuk terus melekatkanmu… hingga jika semuanya terlampaui akan tiba sebuah kondisi yang tanpa sisa… dirimu akan berjalan tanpa kau berkehendak… tanpa memikirkan apakah kaki kiri dahulu ataukah kaki kanan dahulu. Tiba di tempat tujuan tanpa timbul sedikitpun kehendak baik dalam ucapan, pikiran ataupun perbuatan badan jasmani. Mudah? sepertinya… sulit sekali mencapai keadaan tanpa sisa.

Teringat dengan kata-kata Sang Guru… kududuk dipinggiran sungai melihat bayangan wajah sendiri di air yang jernih… atau pun berhadap-hadapan dengan cermin… namun hanya mampu melihat bagian yang berhadapan saja… kotoran-kotoran di tempat yang tersembunyi tak dapat terhadirkan.

Dan ketika diri ini mengungkapkan hal ini dalam kata-kata pun bisa saja diri ini pun terjebak pada keadaan yang melekat. Kepada yang membaca pun benar-benar terpinta dari diri ini agar jangan menelan mentah-mentah apa yang tertuliskan ini. Karena bisa saja tulisan ini pun tidak jujur… mengapa? karena masih tertuliskan dalam sebuah bentuk… Kebenaran yang benar-benar mutlak adalah yang tak terdeskripsikan atau pun terpersonifikasikan dalam bentuk apapun.

Kembali ke pointnya… menaklukkan diri sendiri bagi diri ini adalah hal yang sangat sulit. Jadi sebelum menaklukkan ribuan, jutaan, milyaran, hingga tak terhingga… taklukkanlah diri kita terlebih dahulu. Agar dalam perjalanan tak melukai mahluk lain baik fisik maupun non fisik.

~000OOO000~
Peringatan!!!
Jangan menelan mentah-mentah apa yang tertuliskan di atas.

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Rabu, 05 Juni 2013

Laut dan Garam

Kau yang memberikan rasa dalam hidupku, senyum itu seperti sebutir butiran garam, memberi rasa untuk hidangan dan perih untuk luka. Dari dirimu aku belajar banyak makna, menghargai sekecil apapun pemberian, mengerti makna dari yang tak bermakna. Mematikan rasa dalam ego, biar rindu tetap diam. Kemarin aku menangis melihatmu, ingin memelukmu, ingin mengenggam erat dirimu. Kau tersenyum semua raga terenyuh berlari memeluk  gelap gema suaramu.

Kau garamku, kini kau telah menjadi laut, sayang. Berwujud, tersentuh, terlihat, lembut namun tak mampu digenggam. Rasa tetap sama, hakikat sama beralih fungsi. Aku merindukanmu, aku tetap memujamu, kasih. Biarkan aku tenggelam dan mati dalam lautan. Ambil ragaku, tak peduli aku tak bernyawa. Atau biarkan aku menjadi mahluk yang hidup didalam lautan itu, walau hanya seekor plankton sekalipun. Sayang, kau berbeda, jauh sekali, kau berubah, banyak, sangat banyak, kau membelai ribuan pasir, menghempas dirimu di tepian pantai yang indah. Aku tak berarti bagimu.

Segala bentuk kesederhanaan yang ada, yang kusukai. Dari gumpalan putih kecil kau sungguh kristal putih asinku. Betapa kini aku sulit mengenalimu. Untuk bicara denganmu sangat sulit, apalagi tertawa seperti sediakala. Aku hanya mampu memandangimu, dari balik jendela hatiku, mengawasimu, melirikmu diam-diam. Laut, aku ingin mandi biar lukaku terasa perih.

Sumber:  http://fiksi.kompasiana.com

Minggu, 26 Mei 2013

Kadang Suka Kadang Duka

Hidup tidak pernah memberikan pilihan manusia yang membuat pilihan itu ada dan bukan hidup. Saya mengartikan hidup ini sebagai dunia saya. Hidup adalah dunia yang saya hidupi. Saat saya mati nanti itu artinya hidup telah meninggalkan saya, bukan saya yang meninggalkan hidup . Kecuali untuk kasus -  kasus tertentu yang mana ada manusia yang rela meninggalkan hidup. Saya sendiri belum rela.

Hidup tidak pernah sempurna . Hidup selalu punya cara untuk mempermainkan yang menghidupinya dan  juga sebaliknya  . Hidup kadang berbohong dan kadang juga dibohongi . Hidup yang jujur , bersih , indah , damai itu ada tapi jarang - jarang. Semua insan ingin hidup yang dia punya bahagia . Membahagiakan hidup dengan berbagai macam cara yang sesuai dengan standar kebahagiaan dengan berbagai kreativitas , kadang dengan tipu daya membohongi hidupnya sendiri .

Hidup itu bukan misteri  tapi realita yang harus dihadapi bahwa setiap hari ada 24 jam dan orang harus tahu hak dan kewajibannya dan bahwa hidup tidak untuk selamanya . Isi dari hidup tergantung pada yang menghidupinya . Manusia adalah makna dari hidup , manusia adalah Roh dari hidup , jiwa yang menjiwai , dan rasa dari kehidupan . Keindahan dan kedukaannya mewarnai hidup . Kadang suka kadang duka , tanpa kepastian dalam dinamika jiwa yang rentan . Hanya satu yang pasti , bahwa hidup tak pernah selalu ada .

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Minggu, 19 Mei 2013

Menemani Makan Malam Tarifku 2 Juta, Sarapan Bareng Malah Bisa Gratis

“Tolong berikan pada gadis manis itu..”Kata Afat pada seorang penjaga toilet wanita dengan memberi kartu namanya. Si gadis berambut panjang memikat hatinya ketika berpapasan di lorong toilet mall.

“Bapak memberi nomor HP pada saya, ada yang bisa dibantu?”Tanya Marani via SMS.

Wah, menghubungi juga. Berarti nih cewek sudah ngerti, pikir Afat senang. Lalu dia memuji kecantikan Marani dan rambut hitamnya yang indah serta berbagai pertanyaan mengakrabkan diri lainnya. Sampai akhirnya dia menanyakan kata-kata ‘kunci’ itu.

“Merani mau kapan-kapan ketemu?”

“Wah, om Afat mau kasih saya apa?”

“Kamu maunya berapa?”

“Kalau menemani makan malam ‘tarifku’ 2 juta,om.”Jawabnya lugas di telepon.

“Kalau lebih dari makan malam?”Tanya Afat dengan suara bergetar exciting.

“Sepuluh juta om. Sanggup?”

“Sanggup.”

Dan hari itu mereka bertemu di sebuah hotel berbintang di tengah kota dan naik ke lantai 17.

“Temani aku sampai pagi,ya……”Kata Afat.

“Tidak bisa,om. Sepuluh juta itu cuma beberapa jam menemani om. Saya langsung pulang. Saya jarang mau menemani sampai pagi.”Kata Marani dengan senyum genitnya.

“Berapa yang harus saya kasih kalau mau sampai pagi?”Tanya Afat penasaran.

“Om,kalau kita cocok. Lalu om dan Marani sudah ‘lengket’ dan pakai hati, pasti om saya temani sampai sarapan pagi. Bukan cuma satu hari, tetapi ditemani sarapan pagi tiap hari. Dan itu tarifnya GRATIS!”Katanya serius.

Afat terpukau. Gadis ini punya tarif kalau mau tubuhnya, tetapi akan gratis kalau bisa mendapatkan hatinya. Sanggupkah dia menaklukkan hatinya?

“Aku ingin memenangkan hatimu…”Bisik Afat merayu saat mereka selesai bercumbu.

“Bisa. Asal om berhenti bagi-bagikan kartu nama setiap ketemu cewek cantik dan lebih memilih Marani di setiap makan malam om.”Katanya.

“Sampai berapa lama?”

Si gadis hanya tersenyum misterius.

Karena untuk mahluk semata keranjang Afat, membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk menaklukkan hati wanita. Karena dia sudah terbiasa dengan waktu singkat membeli tubuh mereka.

Sumber:  http://fiksi.kompasiana.com



Senin, 13 Mei 2013

Yang Tak Terlihat

‘Grace. Baik-baik ya.’ pesan Mama dari balik jendela. Aku menutup pintu mobil dan tersenyum padanya. ‘Ya Mama. Jangan khawatir.’

Mama menaikkan kaca jendela. Mobil melaju pergi.

So, here we are.

Dengan ragu aku melangkahkan kaki. Dua setengah bulan kulewatkan studi, karena harus menginap di rumah sakit. Semoga kali ini terakhir, karena sebelumnya sudah berulang kali aku keluar masuk rumah sakit, meski hanya sebentar-sebentar, tak pernah selama ini.

Memasuki gerbang sekolah, aku segera menangkap beberapa pasang mata menatapku dengan terkejut. Oh, rupanya aku sudah menjadi mahluk aneh sekarang. Beberapa murid mulai berbisik-bisik dengan temannya, sambil tetap tak menyembunyikan pandangannya padaku. Aku mengeluh dalam hati, namun tetap melangkah. Berusaha mengabaikan semua pandangan murid yang telah melihatku.

Itu dia yang kucari. Karin. Aku hapal tubuhnya yang tinggi semampai dan rambutnya yang panjang.

‘Hei!’ sapaku sambil menepuk bahunya. Ia berdiri membelakangiku, sedang asyik bicara dengan Vita.

Karin menoleh. Dan terbengong-bengong melihatku. Ada sekitar 5 detik ia menatapku dengan mata  melotot seperti itu. Vitapun menutup mulut dengan tangannya, berusaha menyembunyikan pekikannya meski tetap kudengar jua.

‘Hei! Ini aku, Grace!’ sapaku sambil tertawa. Terpaksa tertawa, karena sungguh hatiku pedih melihat reaksi mereka.

‘Ah! Eh..Grace?’ tanya Karin ragu. Ia menatapku dengan takjub. ‘Eh…sudah sembuh? Wow! Eh..penampilan baru?’ ia masih menatapku tak percaya.

Aku tersenyum. ‘Iya Karin, lebih segar ya?’ kataku mengujinya. Karin mengernyitkan keningnya. Vita kulihat berhasil menguasai keadaan. Namun tangannya kini menggenggam tangan Karin, erat.

‘Halo Grace. Ugh..nice to meet you. Long time no see you..’ katanya pelan.

‘Halo Vit! Gimana nih, gank kita? Ada kabar baru?” kataku, lelah berbasa basi.

Satu sentakam kecil pada tangan Karin. ‘Oh..eh..ngga ada yang baru kok Grace. Eh..sorry yaa..kita masuk kelas dulu.’ Vita menarik lengan Karin. Mereka berbalik pergi menuju kelas sebelah, 8B. Meninggalkanku seorang diri.

Aku mendesah. Sudah kuduga. Penampilan penting adanya, terutama bagi gankku, bekas gankku lebih tepatnya. Saat aku berbalik, sekerumunan teman-temanku di 8A sedang mengamatiku dengan seksama. Tak mengira aku berbalik menghadap mereka, dengan agak panik mereka menyapa.

‘Grace! Sudah sembuh?’

***

Kelasku tak berubah. Jendela dibuka lebar-lebar agar udara pagi dapat masuk. Bagian belakang penuh dengan tempelan kertas-kertas berisi tugas. Bagian depan dua papan tulis bersih sudah terpampang, menunggu Bu Ira, wali kelas kami, datang.

Bedanya, kali ini aku duduk sendiri.

Biasanya mereka berebut duduk di sebelahku. Aku, maskot kelas 8A katanya. Gelar Kartini 2012 pernah kuraih, bersaing dengan para gadis cantik di sekolah ini pada acara Kartinian tahun lalu. Selain penampilanku, prestasi sebagai juara paralel dan sekretaris OSIS cukup mendukung keputusan juri menjadikanku pemenang.

Untuk itulah mereka ingin menjadi temanku. Saling berebut agar bisa sebangku denganku. Ngga cowok ngga cewek. Yang cowok karena berharap bisa jadi pacarku, yang cewek bangga jika punya teman sepertiku.

Namun kali ini tidak.

Aku duduk di tengah, dengan pandangan spesial yang lagi-lagi kudapat. Campuran antara heran, takjub, dan..jijik mungkin. Hatiku terasa pedih. Ditambah lagi dengan dengungan pelan yang muncul dari penjuru kelas. Mereka enak, punya teman untuk bergunjing.

Kemudian pintu terbuka, dan Bu Ira memasuki kelas. Kami serentak berdiri, dan mengucapkan salam ‘Selamat pagi, Buuuu.’

Bu Ira mengangguk, kami lalu duduk. Saat itulah Bu Ira mulai melihatku. Tatapannya juga kaget, namun ia dengan cepat bisa menguasai keadaan.

‘Grace! Senang melihatmu kembali. Sudah beres semua pengobatannya?’ sapanya ramah.

‘Semoga Bu. Masih rawat jalan.’ jawabku berusaha ceria. Ibu, mungkin beberapa hari ke depan ku akan bolos saja. Tak kuat aku menerima perlakuan seperti ini…

‘Syukurlah Grace. Tuhan memberkati. Kau bisa pinjam materi kita selama ini dari temanmu.’ kata Bu Ira sambil tersenyum.

Aku melirik kanan kiriku. Nampaknya mereka berusaha menghindari pandanganku. Mungkin meminjamkan buku padaku juga akan mereka hindari…

***

Saat makan siang di kantin, lebih parah lagi. Kantin kami terdiri dari meja-meja panjang,dengan puluhan kursi plastik di sekitarnya. Mestinya bisa menampung sepuluh murid per meja.

Tapi kini, aku sendiri. Mejaku hanya terisi : aku.

Dan pandangan murid-murid itu, makin terasa. Kali ini seluruh anak kelas dua berkumpul di kantin. Dari 8A hingga 8D. Dan makin terkenallah aku dengan penampilan baruku. Makin susah pula aku menelan makan siangku. Yang bisa kulakukan hanya meminum perlahan-lahan air mineralku, berharap makanan di kerongkongan bisa meluncur ke dalam.

‘Kosong?’ sapa seseorang. Aku menengadah. Joy, temanku di kelas 8A menyapaku sambil membawa bakinya.

 ‘Sure.’ kataku sambil tersenyum. Ah, akhirnya ada juga yang menemani.

Ia mengambil tempat duduk tepat di depanku. Sambil mulai mempersiapkan makan siangnya, aku mengamatinya. Seingatku, aku tak pernah bertegur sapa dengannya. Ya, dulu aku begitu sibuk dengan mereka yang berusaha mendekatiku, sehingga jarang bagiku untuk mengenal yang lain. Joy murid yang biasa-biasa saja. Nilai biasa saja, olahraga biasa juga, wajahpun rata-rata. Hanya kacamata minus menghiasi wajahnya, dan sesekali kacamata itu turun sehingga ia harus menaikkannya.

‘Grace, gimana keadaanmu?’ tanyanya pelan. Ia kini mulai menyantap makan siangnya.

‘Baik kok Joy.’ kataku berusaha ceria. Aku tak mau terlihat lemah di hadapan lainnya.

‘Ehm, sori kalau aku tanya ini. Kamu ngga pakai…wig saja?’ tanyanya lagi.

Aku terdiam. Persis seperti yang Mama sarankan kemarin. ‘Pakailah wig, Grace. Atau topi, jika kau tak mau. Kau akan menarik perhatian mereka, dan Mama khawatir..mereka akan memperlakukanmu dengan berbeda.’ Waktu itu aku menjawab dengan gagah, ‘Ngga usah Ma. Mereka semua teman-temanku. Mereka pasti mau menerima aku. Buat apa aku membohongi teman Ma, dengan menyembunyikan keadaanku. Aku ingin tampil apa adanya Ma.’ Mama hanya bisa mengangkat bahu. Kini kusesali semua rasa percaya diriku. Ternyata selama ini, aku tak pernah punya teman…

‘Ngga ah Joy. Palsu. Biarlah mereka menerimaku apa adanya.’ jawabku pelan. Itupun kalau ada yang mau…

‘Kamu..bisa sembuh?’ tanyanya lagi. Hati-hati, dan seakan bertanya sambil lalu. Tapi aku tahu, mungkin itulah yang ia tuju. Berharap aku sembuh, rambutku pelan-pelan tumbuh, dan aku menjadi gadis tercantik lagi. Dan Joy, yang berusaha jadi temanku saat ini, akan menikmati hasilnya nanti. Jasa persahabatan, eh Joy? Aku akan gagalkan!

‘Sembuh sih mungkin Joy. Tapi rambut, mungkin ngga. Kemoterapi sungguh kuat pengaruhnya Joy, mungkin aku selamanya tak akan punya rambut lagi.’ kataku tegas. Berbohong, tapi tegas. Itulah seni berbohong, membuat orang lain percaya, mengucapkannya dengan yakin.

Joy menatapku lama. Kena lu Joy! Mau apa, heh?! Menyesal, mengajakku bicara?
Kami makan dalam diam sampai istirahat selesai.

***

Mama berhasil membujukku untuk masuk sekolah hari ini. Aku sudah malas sebenarnya, capek melihat mereka memandangku seperti itu. Capek mendapatkan perlakuan berbeda, dari dipuja jadi disia-sia. Capek berusaha tegar padahal keadaannya sungguh membuatku terkapar.

Namun Mama bilang, mereka lama-lama akan terbiasa. Kali ini mereka hanya kaget saja. Ah Mama, kalaupun aku masuk sekarang, lebih karena kasihan melihatnya harus menyemangatiku, padahal Mama harus segera berangkat bekerja. Mencari uang lebih banyak, untuk membiayai pengobatanku.

Dan, inilah aku. Memasuki pintu gerbang sekolah dengan adegan yang berulang. Tatapan, tatapan, dan tatapan. Tak ada jalan lain, selain menyelamatkan diri di kelas. Duduk diam, sampai Bu Ira datang. Biasanya setiap pagi aku sudah sibuk beredar, menyapa teman-temanku yang berada di depan kelas masing-masing. Kini, tidak perlu. Mereka cepat-cepat masuk kelas begitu melihatku. Oh, betapa menjijikkankah aku?

Aku duduk sambil berpura-pura membaca buku. Menghindari tatapan teman-teman yang juga berada di dalam kelas. Tak ada seorang pun yang mengajakku bicara.

Tiba-tiba terdengar keriuhan dari pintu. Joy masuk kelas dengan cengiran lebar teman-temannya di belakangnya. Aku melotot saat melihatnya.

‘Kosong?’ tanyanya. Tanpa menunggu jawabanku, ia meletakkan tasnya di bangku. Aku masih bengong.

‘Joy…eh..rambutmu…’ kataku tercekat.

‘..sama gundulnya denganmu.’ katanya sambil tersenyum. ‘Dan akan tetap begitu, kalau kaupun begitu. Aku akan menggundulinya kembali jika mulai tumbuh lagi.’

Aku terdiam. Rasa menyesal mulai merayap pelan. Mencurigai ia yang tulus ingin berteman. Ia, berusaha menemani dalam kesengsaraan. Bukan dengan kata-kata penghiburan, tapi tindakan. Ia, menjadi sama denganku, berusaha berbagi derita denganku. Atau, sesungguhnya… ini caranya untuk menyemangatiku?

‘Bagus Joy!’ kataku sambil tertawa. ‘Sekarang kita jadi B2, Botak Bersaudara!’

Joy terkekeh. ‘Lebih tepatnya, Si Cantik dan Si Botak!’ katanya sambil tersenyum. Aku tersenyum malu.

Ah Joy, selalu melihat yang tak terlihat…

Sumber: http://fiksi.kompasiana.com

Minggu, 28 April 2013

Rejeki itu Misteri dan Kematian itu Pasti

Sumber Gambar: http://www.andriewongso.com

REJEKI ITU MISTERI,DAN KEMATIAN ITU PASTI

Tadi sore saya membaca tweet dari seorang motivator yang berbunyi datangnya rejeki itu misteri tetapi datangnya kematian itu pasti.Kalimat dalam tweet tersebut sungguh membuat saya termenung sesaat.

Baru dua hari yang lalu,seorang Ustad muda yang popular dengan nama UJe meninggal dunia .Penyebab Uje meninggal dunia adalah kecelakaan tunggal.Uje yang sedang mengendarai motor sportnya akhirnya meninggal karena menabrak sebuah pohon.Dari hasil wawancara dengan salah seorang keluarganya diketahui pada saat Uje mengendarai mogenya ,kondisi kesehatan Uje dipastikan belum fit.Tetapi apa pn penyebab kecelakaan tersebut Uje telah pergi menghadap Yang Maha Kuasa.

Lalu setelah termenung sesaat saya akhirnya menuliskan status di twitter saya.Bunyi kalimat yang saya tulis adalah sebagai berikut : Rejeki itu misteri,kematian itu pasti dan kebaikan serta ketulusan itu abadi.

Saya menambahkan kebaikan serta ketulusan itu abadi dalam status twitter saya.Saya sangat menyukai kalimat yang saya tulis dalam twitter saya tersebut.

Saya sudah banyak menemui contoh dari kejadian bahwa rejeki itu misteri,kematian itu pasti dan kebaikan serta ketulusan itu abadi.Contohnya adalah kakek Amin yang pernah tinggal di rumah saya.Untuk urusan rejeki,Kakek Amin cukuk mapan.Dari hasil berjualan drum,Kakek Amin bisa menyekolahkan ke 7 anaknya sampai lulus SMA.Kakek amin juga bisa membangun dua buah rumah,memiliki 5 hektar tanah dan mempunyai satu buah mobil Carry.Tetapi sakit jantung akhirnya menyebabkan kakek Amin meninggal.Setelah kakek Amin meninggal kebaikan serta ketulusannya selalu dikenang oleh keluarga saya.Kakek Amin memang orang yang baik dan tulus.Kakek Aminlah yang dulu membersihkan kolam ikan,menyapu rumah dan memelihara koleksi tanaman milik ibu saya.Karena tulus .Kakek Amin tidak pernah mau diberikan uang.Dia mengatakan bahwa semuanya adalah hobinya.Dia mengerjakan semua pekerjaan itu dengan rasa senang tanpa dipaksa.

Selain kisah kakek Amin tadi,masih banyak cerita lain yang mengambarkan kalimat : Rejeki itu misteri,kematian itu pasti dan kebaikan serta ketulusan itu abadi.

Kematian memang pasti akan mendatangi kita sebagai umat manusia,Rejeki itu juga misteri.Kita tidak tahu keadaan keuangan kita di masa mendatang.Datangngnya kematian juga tidak dapat ditebak.Hanya Tuhan yang mengetahui sampai berapa lama seorang manusia hidup di dunia ini.Tetapi jika kita sebagai manusia selalu berbuat baik dengan penuh ketulusan,kebaikan kita pasti akan dikenang selamanya.Walaupun kita sudah meninggal sekalipun nama kita akan selalu dikenang karena perbuatan baik yang pernah kita lakukan.

Oleh karena itu marilah perbanyak perbuatan baik dan lakukan dengan penuh ketulusan.

Sumber : http://fiksi.kompasiana.com

Minggu, 14 April 2013

Sebuah Renungan

Sadar atau tidak, sering kali kita menempatkan diri pada posisi sebagai orang yang harus dimengerti,dipahami, serta dihargai oleh anggota keluarga ,sahabat,teman dan orang orang sekitar kita. Kita tidak hanya sekedar meminta atau berharap,tapi menghendaki dan tidak jarang menuntut untuk dipahami.

Bila harapan tersebut tidak terpenhi,maka kita akan sangat kecewa dan mulai memberikan penilaian penilaian negatif kepada mereka.

Mengapa demikian? Mungkin kita merasa diri orang penting,yang harus diprioritaskan ,dipahami ,dimengerti dan dihargai.

Pernahkah terpikirkan mengapa bukan kita yang mencoba memahami anggota keluarga ,sahabat, teman dan orang orang sekitar kita?Ask your heart,because the answer is in your heart.

Mari kita tanya hati kita masing masing, karena disana ada jawabannya.

Hidup memang penuh dengan penilaian penilaian. Boleh boleh saja kita menilai orang lain. Tetapi alangkah bijaknya bila, sebelum kita menilai orang lain,mulailah dengan diri kita terlebih dulu. Dan bila kita jujur pada diri sendiri,maka disana kita akan menemukan,bahwa masih banyak kekurangan kekurangan yang terdapat didalam diri kita. Baik dalam cara berpikir,bertutur kata dan perilaku kita dalam kehidupan se hari hari.

Dengan demikian, setahap demi setahap, kita akan semakin memahami arti dari kearifan hidup. Bahwa hidup tidak dapat dinilai dengan hitam dan putih. Bahwa kita bukanlah hakim yang berhak memberikan vonis kepada orang lain .

Semakin kita memahami makna kearifan hidup, semakin kita mengetahui ,bahwa teramat banyak misteri misteri kehidupan yang belum kita pahami.

Hidup ini adalah sebuah universitas yang multidimensional. Dimana kita bisa belajar apa saja,dimana saja dan kapan saja,bila kita mau. Bahkan dari setiap kejadian kecil,yang kelihatan sepele ,kita bisa memetik pesan pesan moral, yang dapat membawa perubahan besar dalam hidup kita.

Belajar di bangku sekolah,akan memberikan kita ilmu pengetahuan,tetapi belajar di universitas kehidupan akan menghadirkan kearifan hidup.

Semoga renungan singkat ini bermanfaat untuk dibaca.

Saya postingkan artitel sederhana ini, jauh dari bermaksud menggurui,tetapi sekedar berbagi kepada teman teman semuanya. Semoga berkenan.

Sumber :  http://fiksi.kompasiana.com


Minggu, 31 Maret 2013

Pesan Seorang Tukang Roti pada SBY…


13647410972146367166

Anda pasti kenal Luciano Pavarotti?
Sang maestro tenor yang telah berpulang beberapa tahun lalu
Dahulu, ayahnya adalah seorang tukang roti di kota kecil Modena Italia
Meski demikian, sang ayah sangat memperhatikan pendidikan Pavarotti kecil
Dia melihat bahwa sang anak memiliki bakat menyanyi dan bersuara indah
Lalu, dia pun menyekolahkannya di bidang seni suara
Namun,
Pavarotti pun memiliki keinginan untuk menjadi Guru dan masuk sekolah keguruan
Karena bingung, Pavarotti muda meminta nasehat sang ayah yang bijak
Apa kata sang ayah?
“Nak
Luciano, engkau harus memutuskan salah satu. Ikuti kata hatimu.
Jangan mencoba untuk duduk di dua kursi, engkau akan jatuh di tengahnya.
Cukup satu kursi untuk duduk.”
…………………..
Itulah nasehat yang sangat sangat bijak dari seorang ayah pada anak
Meski beliau hanya seorang tukang Roti
Apa efek dari nasehat tersebut?
Luciano Pavarotti sukses sebagai penyanyi tenor di dunia
Meski sudah wafat, namun nama dan karya Pavarotti tetap dikenang
…………………………….
Lalu, kita kembali ke sebuah negeri bernama Indonesia
Ada seorang pemimpin BANGSA
Di mana bangsa itu kian TERPURUK di segala sisi kehidupan
Namun  anehnya,
sang Pemimpin masih ingin menjabat posisi lain sebagai ketua partai
GILA JABATAN
atau
SOK MAMPU?
…………………
Sepertinya sang Pemimpin negeri perlu belajar dari seorang TUKANG ROTI
……………………..

Sumber: fiksi.kompasiana.com

Minggu, 13 Januari 2013

Keberuntungan Itu Bisa Diciptakan

"It's a funny thing, the more I practice the luckier I get - Arnold Palmer (Professional Golfer)

Kalau ada yang bilang bahwa "luck" itu bisa diciptakan, boleh jadi salah satunya ya si tuan Palmer ini. Tapi konteksnya bukan sebab kaena "bejo" atau "hoki" ataupun si "luck" itu bisa dia "rencanakan" kemunculannya.

Sejatinya bukan cuma pada golf ataupun di urusan plah raga saja, kalau faktor keberuntungan itu sungguh butuh diperhitungkan. Untuk perkara apa saja lah. Bisa pada soal keluarga, karir, asmara, dan, ya semuanya lah. Banyak hal tak terduga yang sekonyong-konyong bisa bakal muncul gitu saja tanpa tahu dari mana musababnya. Yang bikin gembira atau bisa juga malah sebaliknya... bikin kemringet dingin. Bikin nderedeg.

Umumnya, "keberuntungan" itu cuma kita percayai sebagai hal yang bekerja otomatis di luar kendali kita manusia. Maka biasanya kita jadi cuma bisa ngarep doang. Soal terjadi atau enggaknya sih ya tanya aja ke rumput tetangga masing-masing.

Tapi kalau kata Arnold Palmer ini, segala pengharapan itu bisa dia persempit jadi satu kenyataan. Tentu tanpa menafikkan peran doa atau ibadah spiritualnya. Dia ini meyakini kalau makin keras dia usaha, tambah getol dia belajar, atau lebih sering dia latihan, itu bakal bisa bikin dia lebih sedikit perlu berharap. Makin sedikit dia perlu H2C (Harap Harap Cemas) bagi kedatangan si mas "bejo" tadi. Artinya, ya semakin lebarlah jalan menuju keberhasilan dia itu. Par.. Menang. Dengan probabilitas yang lebih meyakinkan dirinya tentu.

Pagiku kemarin bermula dengan cara yang sama seperti pagi hari yang lalu-lalu. Habis subuhan, aku lanngsung kemasi perlengkapan ngantor hari ini. Tas ransel yang aku dapat gratis dari tempat kursus komputer bulan lalu ini juga sudah memeluk punggungku rapat-rapat. Uang ongkos agkotpun telah terlipat rapi di kantongku. Dan sejurus kemudian, aku sudah ada di pinggir jalan tempat aku bisa menunggui angkot ke arah kantorku.

Berdiri cukup lama pada keremangan pagi itu, mulai bikin gelisah mataku yang terus lirik jam tanganku. Walau akhirnya datang juga, tapi entah kenapa cuma si angkot yang tampangnya sungguh mengkhawatirkan ini yang hinggap di depanku. Lecek banget. Lampu depannya cuma sebelah saja yang tersisa. Mirip kedipan mata bang Jaja Miharja... Apa'an toooh. "Duuh gak hok amat nih...", begitu suara dalam hatiku.

Tapi untungnya, aku diingatkan oleh angin pagi ini kepada kalimat : "Don't judge the angkot by its karoserinya". Jangan cepat-cepat berprasangka cuuy...

Begitu masuk angkot, hokiku mulai benderang. Baru lima ratus meter duduk manis, tak dinyana penumpang disebelahku turun. Dan dia mewariskan padaku akses pandangan langsung kepada mbak-mbak manis yang sedari tadi aku lirik diam-diam. Hiyaaaaaah. Dalam hati, dari tadi aku terus ingat rangkaian kalimat gombal nan daring di TV semalam. "Mbak habis operasi punggung ya?"... "Saya heran mbak, kok bidadari secantik mbak gak punya sayap yaa!!" Gubraak. Hahahaha. Sekali lagi, untungnya itu cuma dialog imajinerku, hehehe.

Dan seperti teori "tarik menarik" dalam buku The Secret, semangatku ini kontan menggetarkan alam hoki lainnya bagiku. Si angkot  ini tiba-tiba berarsi seperti cacing kepanasan. terlihat di depan dia ini muncul pesaingnya. Angkot dengan jurusan yang sama. Sejatinya denga  jalan ngebut segini saja, angkot ini sudah cukup mengantarku lima belas menit lebih cepat sampai di kantorku. Tapi dasar bejo, angkot ini malah tersedot pada iring-iringan kendaraan dengan pengawalan petugas bermotor. wuiih, serasa naik kereta luncur di Dunia Fantasi. Ngebuut.

Tapi rupanya penggemar kebut-kebutan di angkot ini cumalah diriku. Lihat si mbak manis disebelahku ini mulai gelisah lantaran aksi  koboy si sopir itu. Mengetahui gelagat dia ini, aku pun langsung bersiap menggelarkan sapu tanganku. Persis seperti beberapa tahun lalu ketika teman sekolahku terkapar saat di Dufan. Korban wahana "Halilintar".

Makin cepat bukan main menyenangkan ternyata. Buat si mbak itu tentu jadi bikin mual. Dan bagiku, jadi ya makin sebentar saja aku bisa bersama mbak cantik itu. *Kriuukss*.

Untunglah dari sepenggal perjumpaan itu, aku bisa menarik secuil hikmah buatku di hari ini. Kebahagiaan bagi satu orang, belum tentu bikin bahagia orang lain. Keberuntungan hidup orang lain gak otomatis bikin aku bahagia kalaupun aku mesti menerima keberuntungannya itu. Walau pun sering aku jumpai ada kawan yang bawaannya kok ya hoki melulu. Iri juga siiih. Hehehe..

Sumber : ceritamini.com

Kamis, 13 Desember 2012

Harta Di Tengah Bencana

Kalau boleh memilih, siapapun pasti berharap dirinya terhindar dari menjadi korban bencana. Bencana dalam bentuk apapun. Apakah bencana banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, gelombang tsunami, angin puting beliung, dan seterusnya. Siapapun tahu dan menyadari, bahwa bencana bisa menjadi awal petaka yang menyebabkan penderitaan hidup yang berkepanjangan.

Hanya sayang, manusia tidak dalam kapasitas bisa memilih. Jika Allah menghendaki, dimanapun dan kapanpun bencana bisa menimpa siapa saja yang tinggal dibelahan bumi manapun. Siapa yang mengira bahwa Aceh atau Pengandaran akan diterjang air, sedang dua daerah itu tidak dikenal memiliki sungai besar yang berpotensi mendatangkan banjir besar. Tapi Allah mentakdirkan Aceh dan Pengandaran ditimpa gelombang tsunami yang mengikuti terjadinya gempa bumi di dasar laut. Kalaupun tidak dari sumber alam, bencana itu bisa Allah takdirkan berasal dari jenis yang lain. Fenomenanya bisa kita saksikan pada jatuhnya pesawat terbang atau terbakar dan tenggelamnya kapal laut. Atau dalam bentuk lain seperti kebakaran.

Kalaupun bencana selalu identik dengan penderitaan hidup, bagi orang-orang yang mau membuka mata hatinya, orang-orang yang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, maka bencana dalam bentuk apapun pastilah menghadirkan banyak pelajaran dan hikmah. Hikmah yang bisa menjadi pengantar terbukanya kepahaman dan kesadaran akan eksistensi diri dan kehidupannya serta segala kepemilikannya. Contohnya dapat kita temui pada salah seorang korban banjir Jakarta.

Seorang korban banjir Jakarta adalah orang kaya yang tinggal di rumah mewah dengan segala perabotan mewahnya. Tidak ketinggalan mobil mewah menghiasi garasi mobilnya. Mobil yang setia mengantarkan dirinya kemana-mana, menjadi lambang citra dirinya yang masuk kategori strata sosial kelas atas. Saat banjir menenggelamkan rumah dan mobilnya, terlontarlah hikmah lisannya : "Harta yang selama ini aku bangga-banggakan, ternyata tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa. Semuanya tidak berguna seperti tidak memiliki apa-apa."
 
Terlontarnya hikmah dari lisan korban banjir Jakarta itu sesungguhnya tidak mengherankan. Manusia itu jika gagal menempatkan harta pada proporsinya dan gagal memposisikan harta pada tempatnya dalam kehidupannya, pastilah ia salah dalam mempersepsi diri dan hartanya. Kemudian akan timbul dalam hati dan pikirannya, bahwa harta itu segala-galanya. Ia mengira dengan harta semua akan terselesaikan, terbeli dan tercukupi. Seperti itulah watak manusia yang memang cenderung melampaui batas : "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup." (QS: al-Alaq : 6-8)

Siapapun diantara kita hendaknya menyadari, bahwa manusia itu sesungguhnya sangat rapuh jiwanya jika berhubungan dengan harta. Dalam prakteknya, harta itu sangat mudah menggelincirkan manusia ke dalam kubangan kemaksiatan dan kezaliman. Jika tanpa rahmat Allah, manusia akan berat beramal sholeh dengan harta yang dimilikinya. Bahkan sekedar mengeluarkan hak-hak fakir miskin atau kaum du'afa lainnya, yang telah ditetapkan kewajibannya oleh Allah, seperti zakat infak dan sodaqoh, tidak jarang yang berat melakukannya. Sebaliknya jika mengeluarkan uang untuk keperluan membiayai kemaksiatan, boleh jadi merasa ringan seringan hembusan angin.

Bila manusia banyak lalainya dari mengikuti petunjuk Allah saat dirinya lapang, maka berhati-hatilah. Boleh jadi Allah akan membuka segala kemudahan dalam hidupnya. Usahanya, karirnya, hartanya, dan semua prestasi dunianya dimudahka berada dalam genggamannya. Segala kesenangan hidup dunia dibuka lebar-lebar untuk dinikmati sepuas-puasnya. Jika yang demikian itu terjadi dalam diri siapapun, maka sudah sangat dekat saatnya untuk menuai siksa yang akan menjadikan dirinya berputus asa. : "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS: al An'am :44)

Kini, ketika kita tahu seperti itu, tinggal diri ini bercermin menatap nurani dan akhlak diri. Apakah kelapangan hidup telah melalaikan diri dari mengikuti petunjuk-Nya? Jika benar, masih ada waktu untuk segera mengoreksi diri untuk  kembali ke jalan-Nya. Atau kelapangan hidup mengantarkan diri menjadi hamba yang selalu menyempurnakan ibadah dan amal-amal sholih lainnya?. Jika itu yang terjadi, teruslah istiqomah hingga Allah memanggil kita kembali menghadap-Nya.

Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua beserta keluarga sehingga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin...

Sumber : Nurul Hayat 

Jumat, 26 Oktober 2012

Cerita Cinta dalam Cerita

Cintamu masih tertinggal di hatiku.
Apakah kau bersedia kutitipkan cinta ini kepada penjaga sandal di masjid?
Jika kau bersedia ambillah dan mintalah nomor kunci 17 itu kepada penjaganya.
Lalu ambil cintamu yang kutitipkan di sana.
Dan aku di sini siap menunggu menjadi imammu!

***
Cintamu seperti timbangan tak pernah stabil.
Kadang berat sebelah.
Selalu labil dalam menetapkan
Haruskah kutambahi pendulum cintaku yang berat ini agar tetap berimbang?

***
Katanya kau setia kepadaku. Setiap saat kau sebut namaku.
Di kala makan, ketika tidur sampai kau bermimpi kau pula bilang setia.
Tapi entah kenapa saat kutanyakan kepada Silvia, Qory, Berta dan Sonya.
Mereka berkata, "Namamu sudah ada di hati mereka!"
Setia: Setiap Tikungan Ada! Itu yang pantas kusematkan padamu!

***
Sehidup-semati. Seiring-sejalan.
Seiya-sekata. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah.
Lalu kubertanya kepadamu. "Maukah kau mati bersamaku?"
Ternyata kau sama saja seperti mereka.

Pesan :
Jangan main cinta dengan logika agar kau tak terjebak di dalamnya.

Sumber : kompasiana.com

Senin, 08 Oktober 2012

Be Your Self..!

Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan keanekaragaman.
Keanekaragaman inilah yang membuat kita harusnya semakin kompak dan saling membantu.
Tapi.. namanya juga manusia!!
Gak ada yang sempurna kan???
Makanya sekarang banyak yang sombong dengan kelebihannya.
Dampaknya???
Mereka tidak lagi menghargai sesamanya!!!
Kekurangan yang dimiliki sering sekali membuat kita kurang percaya diri...
Dengan percaya diri, kita mampu menjadi diri sendiri.....
Salam..

Sumber : kompasiana.com

Sabtu, 06 Oktober 2012

Jika Pagi Ini Terbelah!

Jika pagi ku terbelah, menjadi tanah dan menjadi cahaya Sang Illah,,maka ini yang kugenggam :
Ayat-ayat pengantin Kitab, remah-remah dari pandangan tarekat dan pikiran makrifat. Kehinaan  milikku nan mutlak dan mungkin lorong-lorongku nanti pekat tanpa cahaya misykat.

Kuncup-kuncup doa telah merekat di pagi Mu, adakah itu doa kekhawatiran untuk menemui Pemilikku? Sungguh hinanya sebuah keengganan! Kiranya ruh ini patut belajar melarung ikhlas di lautan hakikat. Agar aku atau cahayaku sadar akan sebenar Cahaya.

Jadi, jika sujudku pagi ini semata untuk menarik rezeki dari langit dan menimbanya dari perut bumi, maka jangan jauhkan kayu-kayu hijauku dari perapianMu, Tuhan. Aku bersujud karena kecintaanku akan sunnahMu.

Bukan ingin berenang dalam lautan permintaan yang tiada tepian. Cukup aku dengan pohon-pohon kesyukuran yang merundukkan buah-buah sepencapaian tangan.

Pagi ini, Kitab langit menemukan. Terbelah atau tidak, kumohon Kekasih, aku ingin kembali sebaik-baik rupa, semurni cahaya dan melesat ke arah semula sebelum Kau tiupkan aku ke dunia fana.
Ya Kecintaanku,
Longgarkanlah pagiku..

Sumber : kompasiana.com

Senin, 17 September 2012

Mulutmu Harimaumu

Kring...................
"Halo, siapa nih? Mau cari siapa?"
"Oh... jeng Lina, ada apa jeng?"
"Hahaha kalau masalah itu sih aku udah tahu dari kemarin, telat kamu hahaha."
"Hah? ada yang lain? siapa?"
"Tukang becak itu? Idih kok mau sih dia? Tukang becak itu kan kelas rendahan. Rasanya aneh banget dia bisa punya selingkuhan tukang becak. Ga kapok apa ya, dipergokin lakinya lagi berduaan sama supirnya sebulan lalu, eh sekarang malah sama tukang becak."
"Iya ya... ada-ada aja."
"Alah... emang selera dia begitu kali hahaha... Oh ya, udah tahu belum gosip si nyonya besar?"
"Iya dia tuh emang udah sering gandeng berondong keren, jeng. Ga kebayang kan, udah kayak pelacur aja. Mau aja dipake banyak cowok."
"He-eh, bener jeng. Nah ceritanya berondong yang terakhir sama dia tuh masuk rumah sakit kemarin. Tau ga sakit apaan? Eh tapi jangan bilang siapa-siapa ya, gua juga tahu dari supirnya. Katanya, tuh cowok kena AIDS!"
"Yah pasti kena juga donk, cuma belum ketahuan aja, soalnya jeng Tika kan belum berani periksa. Barangkali takut sama suaminya."
"Emang bener kasihan suaminya. Padahal orangnya ganteng, duitnya banyak, tapi sayang, istrinya malah begitu."
"Bisa juga sih. Ga menutup kemungkinan suaminya juga kena. Ih... serem banget deh. Mending kita tuh ga usah deket-deket sama mereka, ntar nular lagi."
"Hah? Masa sih? suaminya juga selingkuh sama pembantunya? Mati aku!"
"Ah... enggak kok ga pa pa pa. Aku... aku cuma kaget. Pembantu yang kamu bilang itu si Minah kan? Yang suaminya supir bajaj?"
" .........Eh jeng, aku mesti pergi dulu nih. Udah dulu yah ngobrolnya. Daa..."
Click.
"Ma, abang bajajnya udah nunggu tuh, katanya kita mo diajak ke hotel lagi kayak kemarin," kata anak bungsuku polos.
"............."
Sumber: Kompasiana